<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>kesehatan &#8211; Mahir Digital</title>
	<atom:link href="https://mahirdigital.org/category/kesehatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://mahirdigital.org</link>
	<description>Belajar Digital Marketing</description>
	<lastBuildDate>Tue, 23 Sep 2025 14:56:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.1</generator>

<image>
	<url>https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2024/10/LOGO-MD-100x100.jpg</url>
	<title>kesehatan &#8211; Mahir Digital</title>
	<link>https://mahirdigital.org</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kisah Gerd Si Anton</title>
		<link>https://mahirdigital.org/gerd/</link>
					<comments>https://mahirdigital.org/gerd/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[juragan]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2025 14:43:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mahirdigital.org/?p=2950</guid>

					<description><![CDATA[Kisah Gerd Si Anton Anton: “Bro&#8230; Lu punya resep buat gerd nggak? Gila aja nih, udah minum obat nggak sembuh-sembuh.” [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h1><a name="_Toc205456052"></a>Kisah Gerd Si Anton</h1>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-2954" src="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/09/gerd2-300x212.jpg" alt="" width="300" height="212" srcset="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/09/gerd2-300x212.jpg 300w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/09/gerd2-18x12.jpg 18w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/09/gerd2-600x423.jpg 600w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/09/gerd2.jpg 768w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p><strong>Anton:</strong></p>
<p>“Bro&#8230; Lu punya resep buat gerd nggak? Gila aja nih, udah minum obat nggak sembuh-sembuh.”</p>
<p><strong>Jayantaka:</strong></p>
<p>“Ton&#8230;. lu cek pH lambung lu dulu, jangan asal hajar antasida aja”</p>
<p><strong>Anton:</strong></p>
<p>“Lhah&#8230; gimana ngeceknya? Asam lambung kan memang asam. Maksud gw kenapa kok lambung gw bisa kelebihan asam gitu?”</p>
<p><strong>Jayantaka:</strong></p>
<p>“wkwkwkwk&#8230; yakin kelebihan asam? Bisa jadi malah kurang asam. Lu cek pakai baking soda dulu buat pastiin. Lu itu angkatan jebot masak nggak paham? Pernah minum soda gembira nggak lu?”</p>
<p><strong>Anton:</strong></p>
<p>“oh.. maksud lu kalau gw minum soda lalu sendawa berarti asam lambung gw normal gitu?”</p>
<p><strong>Jayantaka:</strong></p>
<p>“nah.. itu lu paham. Kalau dalam 3 menit lu sendawa berarti asam lambung lu normal. Tapi kalau nggak sendawa berarti lambung lu kurang asam, hipokloridia. Kalau lu hipoklororidia tapi malah lu hajar antasida ya pantas aja nggak sembuh-sembuh”</p>
<p>Anton bengong&#8230; di pikirannya berkecamuk dua narasi yang saling bertabrakan.</p>
<p><strong>Anton:</strong></p>
<p>“lhah&#8230; kok lambung gw bisa ngambek jadi kurang asam Yan? Kebiasaan makan gw tergolong bersih lho Yan? Heran gw&#8230;”</p>
<p><strong>Jayantaka:</strong></p>
<p>“Nggak Cuma lu aja yang heran, kalau katabolisme jalan terus bukan Cuma gerd. Tapi bisa diabetes, hipertensi, asam urat, dan kolesterol juga bisa kejadian”</p>
<p><strong>Anton:</strong></p>
<p>“Kalau itu gw paham. Itu semua kan bisa karena efek spike. Gerdnya sendiri karena apa?”</p>
<p><strong>Jayantaka:</strong></p>
<p>“Yaelah&#8230; tubuh lu jadi asam Ton. Buffering aktif, mineral dipake buat jadi buffer. Bikin bikarbonat buat netralin asam. Lalu lambung lu yang sudah ngorbanin jatahnya buat bikin asam malah difitnah. Badan lu pegel-pegel nggak? Itu tandanya terjadi pernapasan anaerob. Tubuh lu koleksi asam laktat.”</p>
<p><strong>Anton:</strong></p>
<p>“Lalu cara normalinnya gimana Yan?”</p>
<p>bersambung&#8230;.</p>
<p>cek sambungannya di <a href="https://utas.me/markedot/anton-si-santri-metabolik-x3mtu8xv" rel="nofollow noopener" target="_blank">Anton: Si Santri Metabolik</a>. Masukkan 0 rupiah kalau mau unduh gratis, masukkan suka-suka kalau mau traktir kopi.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-2951" src="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/09/anton-300x300.png" alt="" width="300" height="300" srcset="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/09/anton-300x300.png 300w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/09/anton-150x150.png 150w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/09/anton-12x12.png 12w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/09/anton-100x100.png 100w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/09/anton.png 600w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Mau yang lebih spesifik? Semua tentang Gerd (asam lambung) ada di ebook <a href="https://utas.me/markedot/ebook-gerd-chqo52ke" rel="nofollow noopener" target="_blank">Gerd: ketika tubuh dikepung limbahnya sendiri. </a>Gw tau, kembung terus itu nggak enak apalagi saat asam lambung naik, kerongkongan dan dada seperti terbakar.</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-2922" src="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/cover-gerd-300x300.png" alt="" width="300" height="300" srcset="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/cover-gerd-300x300.png 300w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/cover-gerd-150x150.png 150w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/cover-gerd-12x12.png 12w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/cover-gerd-100x100.png 100w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/cover-gerd.png 500w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Kalau yang ini nggak gratis ya. Jangan kuatir, harganya nggak lebih mahal dari ngopi di cafe.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mahirdigital.org/gerd/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ketika Gen Tak Lagi Sakral</title>
		<link>https://mahirdigital.org/ketika-gen-tak-lagi-sakral/</link>
					<comments>https://mahirdigital.org/ketika-gen-tak-lagi-sakral/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[juragan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Jun 2025 16:43:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mahirdigital.org/?p=2938</guid>

					<description><![CDATA[Ketika Gen Tak Lagi Sakral Di tengah gegap gempita kampanye vaksin global, banyak yang sibuk berbicara soal efikasi, angka kasus, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ketika Gen Tak Lagi Sakral</strong></p>
<p>Di tengah gegap gempita kampanye vaksin global, banyak yang sibuk berbicara soal efikasi, angka kasus, antibodi, dan grafik data. Tapi ada satu hal yang luput dari pembicaraan, hal yang jauh lebih dalam daripada urusan medis: martabat manusia dan batas moral atas tubuhnya sendiri.</p>
<p>Vaksin mRNA memang disebut revolusioner. Teknologi ini membawa pesan genetik buatan untuk memicu produksi protein tertentu agar sistem imun belajar mengenali dan menetralisir. Tapi apa yang terjadi jika teknologi yang sama juga digunakan (atau bisa digunakan) dalam konteks lain yang lebih dalam: editing genetik di dalam tubuh manusia?</p>
<p>Sampai di sini, sebagian mungkin mulai merasa tidak nyaman. Karena bagi banyak orang, genetik adalah garis batas terakhir. Ia bukan sekadar urutan basa nitrogen, tapi kitab biologis yang diwariskan dari Sang Pencipta. Ia adalah <em>kode warisan</em>, <em>identitas abadi</em>, bahkan bagi sebagian orang: bagian dari amanah spiritual.</p>
<p>Dan yang membuat keresahan ini makin nyata adalah: teknologi mRNA ternyata satu rumpun dengan teknologi in vivo genome editing. Baik itu <em>lipid nanoparticle</em> (LNP) maupun <em>adenovirus</em> keduanya digunakan dalam berbagai eksperimen modifikasi genetik di organ-organ besar, termasuk hati, paru-paru, bahkan sistem reproduksi. Kini, pertanyaannya muncul secara naluriah dan tak bisa dihindari:</p>
<ul>
<li>Apakah yang kita sebut “vaksin” ini hanya berfungsi sebagai pemicu antibodi, atau sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengedit bagian tubuh tertentu?</li>
<li>Apakah suntikan berulang selama dua tahun terakhir memang murni untuk proteksi, atau secara tidak sadar kita telah menjadi bagian dari eksperimen yang lebih besar?</li>
</ul>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-2939 size-full" src="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/Ketika-Gen-Tak-Lagi-Sakral.jpg" alt="" width="768" height="432" srcset="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/Ketika-Gen-Tak-Lagi-Sakral.jpg 768w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/Ketika-Gen-Tak-Lagi-Sakral-300x169.jpg 300w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/Ketika-Gen-Tak-Lagi-Sakral-18x10.jpg 18w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/Ketika-Gen-Tak-Lagi-Sakral-600x338.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></p>
<p>Dan jika benar ada potensi penyisipan atau perubahan ekspresi genetik (meski tidak disengaja) maka persoalannya bukan lagi soal medis. Tapi sudah masuk ke wilayah iman, hak tubuh, dan keutuhan ciptaan. Tidak semua orang akan marah. Tapi sebagian yang memahami bahwa tubuh adalah amanah, bahwa DNA bukan mainan, dan bahwa manusia bukan objek percobaan, pasti akan bereaksi. Bukan karena anti-sains, tapi karena masih percaya bahwa ada hal-hal yang sakral dan tak bisa disentuh begitu saja, bahkan oleh sains itu sendiri.</p>
<p><strong>Perbandingan Vaksin mRNA dan In Vivo Genome Editing</strong></p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td width="200">Elemen</td>
<td width="200">Vaksin mRNA</td>
<td width="200">In vivo genome editing</td>
</tr>
<tr>
<td width="200">Vektor pengantar</td>
<td width="200">LNP / Adenovirus</td>
<td width="200">LNP / Adenovirus</td>
</tr>
<tr>
<td width="200">Target organ</td>
<td width="200">Otot / Sirkulasi</td>
<td width="200">Liver, Jantung, Otak</td>
</tr>
<tr>
<td width="200">Tujuan</td>
<td width="200">Produksi protein spike</td>
<td width="200">Editing gen spesifik</td>
</tr>
<tr>
<td width="200">Frekuensi penyuntikan</td>
<td width="200">Berkali-kali</td>
<td width="200">Bisa berkali-kali</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<p>Referensi:</p>
<ul>
<li><a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10748114/#sec1-vaccines-11-01737" rel="nofollow noopener" target="_blank">Okuyama R. mRNA and Adenoviral Vector Vaccine Platforms Utilized in COVID-19 Vaccines: Technologies, Ecosystem, and Future Directions. <em>Vaccines (Basel)</em>. 2023;11(12):1737. Published 2023 Nov 21. doi:10.3390/vaccines11121737</a></li>
<li><a href="https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9238147/" rel="nofollow noopener" target="_blank">Wilson B, Geetha KM. Lipid nanoparticles in the development of mRNA vaccines for COVID-19. <em>J Drug Deliv Sci Technol</em>. 2022;74:103553. doi:10.1016/j.jddst.2022.103553</a></li>
<li><a href="https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S016836592200027X" rel="nofollow noopener" target="_blank">Taha EA, Lee J, Hotta A. Delivery of CRISPR-Cas tools for in vivo genome editing therapy: Trends and challenges. <em>J Control Release</em>. 2022;342:345-361. doi:10.1016/j.jconrel.2022.01.013</a></li>
</ul>
<p><strong>Fakta Terkait Vaksin mRNA dan In Vivo Genome Editing</strong></p>
<ul>
<li>AstraZeneca &amp; J&amp;J pakai adenoviral vector (replikasi-defective virus, biasanya non-integratif).</li>
<li>Moderna &amp; Pfizer pakai LNP (Lipid Nanoparticle) buat nganterin mRNA ke dalam sel.</li>
<li>CRISPR-Cas9, base editing, dan lainnya memang butuh vektor buat masuk ke dalam tubuh — dan adenovirus + LNP adalah dua moda populer buat <em>in vivo delivery</em>.</li>
<li>Bahkan beberapa terapi gene editing yang sudah disetujui FDA pakai LNP (misalnya buat penyakit genetik hati seperti ATTR amyloidosis)</li>
</ul>
<p>Dalam terapi gen, injeksi berulang digunakan untuk memastikan payload mencapai target organ secara efektif. Dalam vaksinasi berbasis vektor atau mRNA, injeksi berulang juga dilakukan. Bedanya? Yang satu disebut terapi, yang satu disebut pencegahan. Tapi pertanyaan muncul: jangan-jangan, tubuh kita tidak terlalu peduli pada label &#8220;terapi&#8221; atau &#8220;vaksin&#8221;? Ia hanya tahu satu hal: ada material asing yang masuk, lagi dan lagi&#8230; ke organ yang sama. Jadi:</p>
<ul>
<li>Yang dipromosikan itu pemicu antibodi atau alat edit gen?</li>
<li>Apakah karena targetnya organ besar, maka perlu suntikan berulang?</li>
</ul>
<p>Kita tahu, mRNA bekerja dengan menyisipkan kode agar tubuh memproduksi protein asing (spike protein). Lalu sistem imun merespons. Tapi… siapa yang mengontrol berapa lama tubuh kita memproduksinya? Apakah hanya di tempat suntikan, atau tersebar ke organ-organ lain seperti jantung, otak, testis, ovarium, dan ginjal? Studi-studi terkini sudah menunjukkan bahwa spike protein dan bahkan vektor atau delivery system-nya bisa ditemukan di banyak jaringan tubuh. Maka muncul pertanyaan lanjut: Jika ekspresi protein asing terjadi di organ vital, terus-menerus, dan tak terkendali apakah ini imunisasi, atau pemrograman ulang tubuh secara diam-diam? Apa dampaknya jika ada jaringan tubuh tertentu yang terus-menerus mengekspresikan protein asing ini? Apakah bisa memicu peradangan lokal atau bahkan sistemik dalam jangka panjang?</p>
<ul>
<li><a href="https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8241425/" rel="nofollow noopener" target="_blank">Sebuah studi tahun 2021</a> menemukan protein lonjakan setelah vaksinasi dapat tetap berada di dalam darah hingga 30 hari setelah vaksinasi. Oleh karena itu, protein lonjakan ini menimbulkan risiko bagi sel endotel yang melapisi pembuluh darah, dan juga menimbulkan risiko pembekuan darah karena kemampuan protein lonjakan untuk mengikat protein pembekuan darah.</li>
<li><a href="https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC8820157/" rel="nofollow noopener" target="_blank">Studi pada</a> sel endotel pembuluh darah manusia menunjukkan bahwa paparan protein lonjakan menyebabkan sel inflamasi menempel pada sel endotel, yang mengindikasikan serangan kekebalan, dan yang juga dapat menyebabkan kerusakan sel atau bahkan kematian akibat peradangan.</li>
<li><a href="https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fncel.2021.777738/full#h4" rel="nofollow noopener" target="_blank">Studi pada kultur sel saraf manusia</a> juga menemukan bahwa protein lonjakan dapat masuk ke dalam sel dan menyebabkan disfungsi pembersihan protein neuron dan mengakibatkan neuron terbuang sia-sia.</li>
<li><a href="https://www.ahajournals.org/doi/epub/10.1161/CIRCULATIONAHA.122.061025" rel="nofollow noopener" target="_blank">Studi protein lonjakan pada miokarditis</a> pasca vaksinasi menemukan antigen lonjakan bebas terdeteksi dalam darah remaja dan dewasa muda yang mengalami miokarditis pascavaksin mRNA, sehingga meningkatkan pemahaman tentang potensi penyebab yang mendasarinya.</li>
<li><a href="https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9037197/" rel="nofollow noopener" target="_blank">Sebuah penelitian di China</a> menemukan protein lonjakan dalam sampel pankreas otopsi dari orang yang meninggal akibat COVID-19.</li>
<li><a href="https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7518879/#sec1" rel="nofollow noopener" target="_blank">Sebuah studi otopsi</a> pada 21 pasien COVID mendeteksi 1 orang meninggal yang positif terkena protein SARS-CoV-2 di ginjalnya</li>
<li><a href="https://gut.bmj.com/content/71/1/226" rel="nofollow noopener" target="_blank">Dalam sebuah penelitian terhadap lima pasien COVID yang pulih</a> mulai dari sembilan hingga 180 hari setelah dites negatif terkena virus, penulis menemukan protein lonjakan dan protein nukleokapsid di dalam ileum (ujung usus halus), usus buntu, usus besar, dan wasir yang merupakan pembengkakan pembuluh darah di anus dan rektum bagian bawah</li>
<li><a href="https://www.naturalnews.com/files/Pfizer-bio-distribution-confidential-document-translated-to-english.pdf" rel="nofollow noopener" target="_blank">sebuah makalah tentang vaksin COVID-19</a> juga menemukan bahwa vaksin tersebut mendukung kelenjar adrenal untuk produksi protein lonjakan, dengan RNA protein lonjakan dan protein lonjakan yang ditemukan di jaringan adrenal.</li>
<li><a href="https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2022.02.05.22270327v1.full-text" rel="nofollow noopener" target="_blank">Sebuah studi pracetak</a> menemukan testis, tempat produksi sperma, merupakan reservoir untuk replikasi virus. Hal ini dapat menimbulkan risiko produksi sperma bagi individu tersebut.</li>
<li><a href="https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35713410/" rel="nofollow noopener" target="_blank">Studi pada</a> <a href="https://www.nature.com/articles/s41585-022-00632-y" rel="nofollow noopener" target="_blank">individu yang divaksinasi</a> juga memiliki temuan serupa, yang semuanya menunjukkan bahwa protein lonjakan dengan sendirinya mungkin dapat mengganggu produksi sperma.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mahirdigital.org/ketika-gen-tak-lagi-sakral/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Meninjau Ulang Autoimun dari Akarnya</title>
		<link>https://mahirdigital.org/meninjau-ulang-autoimun-dari-akarnya/</link>
					<comments>https://mahirdigital.org/meninjau-ulang-autoimun-dari-akarnya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[juragan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Jun 2025 14:43:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mahirdigital.org/?p=2934</guid>

					<description><![CDATA[Meninjau Ulang Autoimun dari Akarnya Belakangan ini, topik autoimun semakin sering dibahas. Salah satu penyebab yang sering disebut adalah leaky [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2>Meninjau Ulang Autoimun dari Akarnya</h2>
<p>Belakangan ini, topik autoimun semakin sering dibahas. Salah satu penyebab yang sering disebut adalah leaky gut atau kebocoran usus. Tapi pertanyaannya: kenapa usus bisa bocor? Sayangnya, penjelasan yang sering muncul cenderung mengambang. Banyak yang menyalahkan gluten atau pola makan tinggi gula. Padahal, jika kita telusuri lebih dalam, faktor-faktor tersebut bukan satu-satunya — bahkan bukan yang paling kuat.</p>
<p>Ada satu faktor penting yang jarang dibahas secara jujur: obat-obatan medis, seperti NSAID dan antibiotik. Obat yang kita konsumsi dengan niat “meredakan gejala” justru punya potensi merusak lapisan mukosa usus, membuka pintu bagi leaky gut, dan memicu proses autoimun.</p>
<p>Belum lagi soal intervensi medis yang dipercaya membuat tubuh kebal penyakit. Kalau sistem mikrobiota di usus gagal menetralisir zat asing yang masuk (apa pun bentuknya) sistem kekebalan akan bereaksi. Reaksi ini bisa sangat merusak, dan dalam jangka panjang dapat berkembang menjadi kondisi autoimun.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-2936 size-full" src="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/503166386_10231629786028632_4860302157780740865_n.jpg" alt="" width="504" height="500" srcset="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/503166386_10231629786028632_4860302157780740865_n.jpg 504w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/503166386_10231629786028632_4860302157780740865_n-300x298.jpg 300w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/503166386_10231629786028632_4860302157780740865_n-150x150.jpg 150w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/503166386_10231629786028632_4860302157780740865_n-12x12.jpg 12w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/503166386_10231629786028632_4860302157780740865_n-100x100.jpg 100w" sizes="(max-width: 504px) 100vw, 504px" /></p>
<h2>Alternatif Pemahaman Autoimun</h2>
<p>Pemahaman umum menyebut autoimun sebagai &#8220;tubuh menyerang dirinya sendiri&#8221;. Tapi mari kita lihat dari sisi lain: Mungkin sistem imun tidak salah sasaran, melainkan sedang bereaksi terhadap zat asing (non-self) yang menempel di jaringan tertentu.</p>
<p>Contohnya:</p>
<ul>
<li>Kalau “non-self” berdiam di usus, muncul IBD.</li>
<li>Kalau di jaringan ikat, muncul scleroderma.</li>
<li>Kalau di pankreas, jadi diabetes tipe 1.</li>
</ul>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-2935 size-full" src="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/autoimun.jpg" alt="autoimun" width="768" height="432" srcset="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/autoimun.jpg 768w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/autoimun-300x169.jpg 300w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/autoimun-18x10.jpg 18w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/autoimun-600x338.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></p>
<p>Tubuh sebenarnya ingin membersihkan zat tersebut. Tapi ketika zat ini sulit dinetralisir, inflamasi menjadi kronis. Dalam kondisi seperti ini, sistem tubuh tidak hanya membutuhkan imun, tapi juga butuh dukungan berupa antioksidan, agen pengkelat, atau senyawa pengikat racun, tergantung kondisi.</p>
<p>Yang menyedihkan, pendekatan medis saat ini lebih fokus meredam dengan kortikosteroid, bukan menyelesaikan dari akar. Ambil contoh psoriasis. Banyak orang mengalami flare-up saat stres. Apa hubungannya? Medis konvensional sering kali tidak bisa menjawab secara menyeluruh. Paling banter, pasien diberikan obat oles atau antiinflamasi lagi.</p>
<p>Padahal, stres memicu tubuh masuk ke mode katabolik. Zat-zat yang selama ini tersembunyi mulai dilepas. Kortisol (hormon stres yang juga berperan sebagai antioksidan) akan bereaksi terhadap zat asing tersebut. Jika kadar kortisol sudah rendah, tubuh makin kewalahan. Inilah salah satu penjelasan mengapa penderita autoimun seperti psoriasis sering kali memiliki kadar kortisol lebih rendah dari normal.</p>
<p>Mungkin ini baru hipotesis. Tapi hipotesis yang lahir dari pengalaman nyata, bukankah layak untuk dipertimbangkan? Aku bukan dokter. Aku hanyalah seorang mantan pasien dengan daftar riwayat penyakit yang panjang: Mulai dari batuk pilek berulang, eksim, gejala tipes sampai tipes beneran, DBD berulang (5x), mencret kambuhan, cacar, hepatitis, BAB berdarah, IBD, hingga psoriasis. Sebagian dari kondisi ini bahkan digolongkan sebagai autoimun.</p>
<p>Dan ya, aku imunisasi lengkap. Tapi makin ke sini, aku mulai bertanya-tanya: apakah pendekatan yang aku jalani dulu benar-benar menguatkan tubuh atau justru melemahkan dari dalam? Ilmu kesehatan terus berkembang. Kini, para peneliti mulai serius meneliti mikrobiom dan virom manusia. Mereka mulai menemukan bahwa saluran cerna adalah pusat imun manusia. Bukan sekadar “perut”, tapi markas besar pertahanan tubuh.</p>
<p>Di titik ini, bahkan banyak ilmuwan mulai mempertanyakan kembali teori lama yang selama ini dipegang teguh, seperti <a href="https://mahirdigital.org/teori-kuman-dan-teori-medan/">teori kuman besutan Pasteur</a>. Apakah benar bakteri dan virus selalu jadi musuh? Atau mereka justru bagian dari tubuh manusia yang muncul ketika sistem internal terganggu, terutama oleh polutan dari makanan, udara, atau bahkan suntikan?</p>
<p>Aku tidak menuntut semua orang untuk langsung setuju. Tapi aku berharap, kita mulai membuka ruang untuk berpikir lebih luas: bahwa tubuh manusia diciptakan dengan sistem yang sangat kompleks, seimbang, dan luar biasa. Dan tugas kita adalah mendengarkan. Mendengarkan tubuh ketika protes, bukan malah membungkam &#8220;suara&#8221;nya. Alih-alih menekan gejala, bukankah lebih baik memahami akar masalahnya?</p>
<p>Mas Dot</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-2923" src="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/saluran-cerna-300x300.png" alt="" width="300" height="300" srcset="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/saluran-cerna-300x300.png 300w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/saluran-cerna-150x150.png 150w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/saluran-cerna-768x766.png 768w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/saluran-cerna-12x12.png 12w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/saluran-cerna-600x598.png 600w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/saluran-cerna-100x100.png 100w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/saluran-cerna.png 1000w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Ebook: Hutan Yang Terbakar , link: <a href="https://utas.me/markedot/ebook-hutan-yang-terbakar-sw2yedvp" rel="nofollow noopener" target="_blank">KLIK DI SINI</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mahirdigital.org/meninjau-ulang-autoimun-dari-akarnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sambara dan Asam Uratnya</title>
		<link>https://mahirdigital.org/sambara-dan-asam-uratnya/</link>
					<comments>https://mahirdigital.org/sambara-dan-asam-uratnya/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[juragan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2025 12:43:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mahirdigital.org/?p=2928</guid>

					<description><![CDATA[Namanya Sambara, mahasiswa semester lima. Jurusan budidaya. Siang itu, ia meminta ijin duduk di kursi seberang mejaku. Hanya kursi itu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="xdj266r x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs x126k92a">
<div dir="auto"><span style="font-size: 16px;">Namanya Sambara, mahasiswa semester lima. Jurusan budidaya. Siang itu, ia meminta ijin duduk di kursi seberang mejaku. Hanya kursi itu yang tersisa. Lainnya, sudah penuh dengan orang-orang dan obrolan yang menggema. </span><span style="font-size: 16px;">Aku lihat ia memesan makanan, namun sesampainya di meja, menu yang ia pesan lebih mirip santapan para bikhu. Tanpa daging-dagingan, walau ayam goreng dan seafood di kantin ini terkenal akan rasanya yang luar biasa.</span></div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Selesai makan, ia minum air putih. Hanya itu. Ia tak memesan es teh manis atau kopi hitam kesukaan para laki-laki seusianya. Dan sejurus kemudian, ia meminum pil. Aku tahu, itu pil untuk asam urat atau pil untuk orang yang punya masalah dengan batu ginjal. Di bungkusnya tertulis; allopurinol.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Nggak ngopi mas?&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Enggak berani bang, gw kena asam urat. Ini tadi yang kuminum obat buat asam urat&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Lho, katanya asam urat nggak bisa sembuh, kok ada obatnya? Lagian, lu yakin ada penyakit yang nggak bisa sembuh?&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Aku sengaja memancing pikiran kritisnya. Selama ini, orang percaya bahwa asam urat nggak bisa sembuh. Orang juga percaya bahwa daging-dagingan itu bisa bikin asam urat kumat. Walau banyak dari mereka sudah patuh, namun asam uratnya tetap saja tinggi.</div>
<div dir="auto"></div>
<div dir="auto"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-2929 size-full" src="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/sambara-dan-asam-uratnya.jpg" alt="asam urat" width="768" height="432" srcset="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/sambara-dan-asam-uratnya.jpg 768w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/sambara-dan-asam-uratnya-300x169.jpg 300w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/sambara-dan-asam-uratnya-18x10.jpg 18w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/sambara-dan-asam-uratnya-600x338.jpg 600w" sizes="(max-width: 768px) 100vw, 768px" /></div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Wah, iya juga ya. Sebenarnya gw juga heran, kenapa ya asam urat bisa tinggi, kolesterol gw juga agak tinggi. Padahal, selama ini olah raga rutin, obes enggak, makanan yang dikonsumsi juga gak aneh-aneh. Mahasiswa itu apa sih yang dimakan? daging-dagingan kan juga jarang. Lebih banyak ngiritnya&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Aku tersenyum tipis sambil menghisap sigaretku dalam-dalam. Sambara terlihat polos tapi pikirannya jernih. Ia mulai curiga, ada yang nggak nyambung antara pola hidupnya yang irit dan patuh, dengan angka asam urat yang tinggi terus.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Lu kuliah di jurusan budidaya, kan?&#8221; tanyaku pelan.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Iya, bang.&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Kalau lu pelihara lele di kolam terpal, terus ikan lu suatu hari pada hormat bendera&#8230; apa yang pertama lu curigai?&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Ia mengernyitkan dahi, berpikir sejenak. &#8220;Ya&#8230; kualitas airnya sih bang. Mungkin amoniaknya naik, atau filtrasinya rusak.&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Nah, kenapa kalau tubuh lu yang &#8216;ikannya&#8217; mulai hormat bendera, ngeluarin asam urat berlebihan —alias banyak sel yang rusak, lu malah nyalahin makanannya, bukan kualitas &#8216;air&#8217; di tubuh lu?&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Dia terdiam. Sepertinya belum bisa menangkap apa yang kumaksud.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Begini, ibaratkan sel-sel di tubuh lu itu ikan, darah itu airnya, pembuluh darah pipa, jantung itu pompa, ginjal sebagai filternya. Sedangkan asam urat? Itu serupa amoniak dari ikan yang mati dan busuk di dasar kolam. Nah, analogikan ke tubuh. Bukankah ketika sel rusak, ia akan dirombak juga jadi asam urat? Di dalam sel itu kan ada DNA nya. Satu hal yang jarang dibicarakan dan musti lu tahu. Asam urat dari makanan itu cuma nyumbang 10-20% dari total asam urat yang ada di plasma. Sisanya, 80-90% itu dari tubuh lu sendiri. Lu pernah dikasih tahu ini belum?</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Asam urat itu bukan penyakit dari luar. Itu limbah metabolik tubuh lu sendiri. Kalau limbahnya numpuk, bisa jadi bukan karena makanan yang banyak purin&#8230; tapi karena di tubuh lu banyak peradangan tersembunyi atau petugas kebersihannya yang lagi down. Perhatikan dua hal itu saja.&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Maksudnya ginjal?&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Ginjal, liver, dan sistem imun. Tiga sekawan yang jadi petugas kebersihan lu. Kalau mereka kelelahan, stres, dehidrasi, atau terganggu karena peradangan, ya limbahnya ngendon. Jadilah &#8216;angka&#8217; tinggi di hasil lab. Tapi bukan karena lu makan seafood kemarin sore.&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Sambara tertawa kecil, agak pahit. &#8220;Tapi nyatanya kalau gw makan seafood, asam uratnya naik makin tinggi tuh. Gimana bang?&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Ya jelas aja, daging-dagingan itu kan proteinnya tinggi. Sel-selnya padet, otomatis purinnya juga tinggi. Dan satu lagi, kecernaannya lebih ok dibanding protein dari tumbuhan. Profil asam aminonya kemungkinan juga lebih proposional, &#8220;mirip&#8221; tubuh manusia. Itu berarti, memasukkan daging-dagingan sama saja dengan memasukkan paket komplit bahan bangunan pembentuk sel. Tubuh lu jadi ngebut renovasi sel.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Saat bahan makanan itu dipecah, selain jadi asam amino, ia juga pecah purin. Hasil sampingannya asam urat. Sel-sel lu yang rusak itu purinnya juga dipecah jadi puing asam urat. Dan lu tahu sendiri, jalan tol satu-satunya hanyalah pembuluh darah. <span style="font-size: 16px;">Makanya, kalau dites asam uratnya jadi tinggi. Asal nggak macet, asam urat lu aman. Dia nggak bakal supersaturasi lalu ngendap jadi kristal. Lu nggak perlu telan diclofenac. Coba lu pikir, kalau lu malah stop bahan bangunan, gimana ceritanya sel-sel di tubuh lu bisa dibangun ulang? Lagian, lu tadi bilang kolesterol lu juga agak naik. Itu kan tandanya di tubuh lu ada peradangan&#8221;</span></div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Wah, iya juga ya bang. Tapi&#8230;.&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Nggak usah tapi tapi, lu nanti cari sendiri referensinya. Orang sehat kalau telen pil seperti yang lu telen tadi seumur hidupnya, apa yang bakal terjadi? Lu pernah mikir sampai sini nggak? Nih&#8230; ngudud dulu, stress bikin tubuh lu masuk mode katabolik. Asam urat termasuk salah satu hasil sampingannya. Lu udah habis air satu botol kan? Entar habis kencing tambahin lagi yang banyak. Sekarang, pesen kopi pahit gih, gw yang bayarin. Entar lu cari tahu kenapa gw suruh lu minum kopi pahit&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Oke deh, penjelasan lu masuk akal bang. Berarti gw kurang air? Kayaknya enggak. Kalau stres, masak sih? Kalau peradangan mungkin saja, tapi karena apa?&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Aku tampaknya berhasil memancing rasa penasarannya.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Ok, kalau untuk itu, lu perlu pelajari peradangan kronis, akut, dan tersembunyi. Lalu, lu juga pelajari mikrobiota usus dan fungsinya terhadap imunitas. Dan lu ingat-ingat, sejak kapan lu mulai bermasalah dengan asam urat? Sekaligus, apa saja yang masuk ke tubuh lu sebelum gejala itu mulai muncul. PR tuh buat lu, 4sks lah&#8221;</div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Sambara tampak bengong. Pandangannya kosong menembus dinding kantin. Tangannya memutar-mutar botol air. Sore itu, pembicaraan kami berhenti ketika kursi di sekeliling mulai kosong. Ketika seseorang menepuk bahuku.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Dot, buru cabut. Gw dah dapet legalisir ijasah nih&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Ternyata, kawanku yang sedari tadi kutunggu sudah selesai. Aku main ke sini karena diajak olehnya. Diajak untuk legalisir ijasah sembari bernostalgia saat-saat kuliah. Sekalian &#8220;cuci mata&#8221;, katanya.</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Masnya anak budidaya ya? Diceramahin apa aja sama orang gila satu ini? Jangan dipercaya, sesat nih orang, hahahaha&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Sambara hanya tersenyum lantas pamit sambil membawa bekal baru: curiga atas kesehatan dan semangat belajar dari tubuhnya sendiri. Tapi masih ada yang mengganjal&#8230;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Eh Bang, kalau ngudud apa hubungannya? Bukannya malah bikin sakit?&#8221;</div>
<div dir="auto"></div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">&#8220;Hahahaha&#8230; Entar. Bab itu bisa jadi 3 sks setelah PR yang tadi lu kerjain. Dan nanti, setelah asam urat lu sembuh, lu akan tahu dengan sendirinya ada apa gerangan dengan tembakau? Itu tema bahasan yang sama rumitnya dengan klaim: diabetes nggak bisa sembuh, atau ikan mas yang kena KHV pasti akan mati 100%&#8221;</div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto"></div>
<div dir="auto">Obat masih di sakunya, tapi kali ini bukan sebagai senjata utama. Hanya cadangan, sementara ia belajar membangun aliansi kembali dengan tubuhnya. Dan mungkin, kali berikutnya ia datang ke kantin&#8230;</div>
<div dir="auto">ia berani pesan seafood setengah porsi, air mineral, plus kopi pahit tanpa rasa bersalah. Dan tak lupa, ngudud&#8230;</div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">NB: ijasah temen gw, aseli&#8230;</div>
<div dir="auto"></div>
<div dir="auto">Nggak usah serius-serius, ini cuma ngarang bebas</div>
</div>
<div class="x14z9mp xat24cr x1lziwak x1vvkbs xtlvy1s x126k92a">
<div dir="auto">Masdot</div>
<div dir="auto"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-2919" src="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/asam-urat-tanpa-obat-300x300.png" alt="" width="300" height="300" srcset="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/asam-urat-tanpa-obat-300x300.png 300w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/asam-urat-tanpa-obat-150x150.png 150w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/asam-urat-tanpa-obat-12x12.png 12w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/asam-urat-tanpa-obat-100x100.png 100w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/06/asam-urat-tanpa-obat.png 500w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></div>
<div dir="auto">Ebook Asam Urat : <a href="https://utas.me/markedot/ebook-sembuh-asam-urat-tanpa-obat-tpioi0b4" rel="nofollow noopener" target="_blank">KLIK DI SINI</a></div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mahirdigital.org/sambara-dan-asam-uratnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Antara trombosit, Sumsum Tulang, dan Hati</title>
		<link>https://mahirdigital.org/antara-trombosit-sumsum-tulang-dan-hati/</link>
					<comments>https://mahirdigital.org/antara-trombosit-sumsum-tulang-dan-hati/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[juragan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2025 13:56:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mahirdigital.org/?p=2856</guid>

					<description><![CDATA[Antara trombosit, sumsum tulang, dan hati Trombosit, sumsum tulang, dan hati memiliki hubungan yang erat dalam proses pembentukan dan pengaturan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Antara trombosit, sumsum tulang, dan hati</strong></h2>
<p>Trombosit, sumsum tulang, dan hati memiliki hubungan yang erat dalam proses pembentukan dan pengaturan jumlah trombosit dalam tubuh. Sumsum tulang adalah tempat utama produksi trombosit. Di dalam sumsum tulang, sel-sel induk (megakariosit) berkembang dan menghasilkan trombosit, proses ini diatur oleh hormon trombopoietin.</p>
<p>Selanjunya, hati berperan penting dalam produksi trombopoietin, hormon yang merangsang produksi trombosit di sumsum tulang. Jadi, hati secara tidak langsung memengaruhi jumlah trombosit yang dihasilkan. Selain itu, hati juga bisa menjadi tempat produksi trombosit walau tidak sebanyak di sumsum tulang.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-2857 size-full" src="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/fungsi-trombosit-penyebab-turun-dan-makanan-yang-bisa-meningkatkannya-32.jpg" alt="trombosit" width="600" height="338" srcset="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/fungsi-trombosit-penyebab-turun-dan-makanan-yang-bisa-meningkatkannya-32.jpg 600w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/fungsi-trombosit-penyebab-turun-dan-makanan-yang-bisa-meningkatkannya-32-300x169.jpg 300w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/fungsi-trombosit-penyebab-turun-dan-makanan-yang-bisa-meningkatkannya-32-18x10.jpg 18w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /></p>
<h2><strong>Hubungan antara Ketiganya</strong></h2>
<p>Hati menghasilkan trombopoietin, yang kemudian merangsang sumsum tulang untuk memproduksi trombosit. Jika fungsi hati terganggu, produksi trombopoietin dapat menurun, yang pada gilirannya dapat mengurangi produksi trombosit di sumsum tulang. Gangguan pada sumsum tulang, seperti leukemia atau anemia aplastik, dapat mengganggu produksi trombosit, meskipun kadar trombopoietin normal. Dengan demikian, kesehatan hati dan sumsum tulang sangat penting untuk menjaga jumlah trombosit yang cukup dalam tubuh.</p>
<h2><strong>Lebih jauh tentang kerusakan hati</strong></h2>
<p>Jika hati mengalami kerusakan, seperti akibat <strong>sirosis, hepatitis kronis, atau penyakit hati lainnya</strong>, produksi trombopoietin bisa terganggu, sehingga tubuh kurang mampu merangsang produksi trombosit secara optimal.</p>
<p>Selain itu, ada faktor lain dari kerusakan hati yang bisa menyebabkan trombosit turun:</p>
<ol>
<li><strong>Hipertensi portal</strong> – Tekanan darah tinggi di vena porta (vena utama yang membawa darah ke hati) dapat menyebabkan pembesaran limpa (<strong>splenomegali</strong>). Limpa yang membesar akan menangkap lebih banyak trombosit dari sirkulasi darah, sehingga jumlahnya dalam darah menurun.</li>
<li><strong>Gangguan fungsi hati dalam memetabolisme zat beracun</strong> – Ketidakseimbangan metabolisme hati dapat menyebabkan perubahan pada sistem pembekuan darah, termasuk menurunnya produksi protein pembekuan yang bekerja bersama trombosit.</li>
<li><strong>Efek samping obat</strong> – Pasien dengan penyakit hati sering mengonsumsi obat-obatan tertentu (seperti antivirus untuk hepatitis atau obat kemoterapi) yang dapat menekan produksi trombosit di sumsum tulang.</li>
</ol>
<p>Jadi, jika ada <strong>kerusakan hati</strong>, produksi trombopoietin bisa terganggu dan trombosit bisa turun. Kondisi ini sering terlihat pada pasien dengan <strong>sirosis hati</strong>, yang sering mengalami jumlah trombosit rendah sebagai salah satu komplikasi utama.</p>
<h2><strong>Bagaimana jika sumsum tulang keracunan logam berat?</strong></h2>
<p>Jika sumsum tulang mengalami keracunan logam berat, produksi trombosit serta sel darah lainnya (sel darah merah dan sel darah putih) bisa terganggu. Ini karena sumsum tulang adalah tempat utama produksi semua sel darah melalui proses hematopoiesis, dan logam berat dapat merusaknya. Logam berat seperti <strong>timbal (Pb), merkuri (Hg), arsenik (As), dan kadmium (Cd)</strong> dapat:</p>
<ol>
<li><strong>Merusak sel punca hematopoietik</strong> – Sel punca ini adalah sel yang berkembang menjadi trombosit, sel darah merah, dan sel darah putih. Jika sel ini rusak, produksi semua jenis sel darah akan terganggu.</li>
<li><strong>Mengganggu metabolisme zat besi dan enzim</strong> – Logam berat dapat menghambat enzim yang diperlukan untuk pembentukan sel darah, terutama heme dalam hemoglobin (penting untuk sel darah merah).</li>
<li><strong>Menyebabkan apoptosis (kematian sel) atau fibrosis sumsum tulang</strong> – Kerusakan kronis akibat logam berat bisa membuat sumsum tulang gagal berfungsi dengan baik.</li>
</ol>
<h2><strong>Dampak pada Produksi Sel Darah</strong></h2>
<ul>
<li><strong>Trombosit</strong> → Produksinya menurun, menyebabkan <strong>trombositopenia</strong>, yang meningkatkan risiko perdarahan.</li>
<li><strong>Sel darah merah</strong> → Produksinya bisa menurun (<strong>anemia aplastik</strong>) karena gangguan pembentukan hemoglobin. Gejalanya bisa berupa pucat, lemas, dan sesak napas.</li>
<li><strong>Sel darah putih</strong> → Produksinya juga bisa menurun (<strong>leukopenia</strong>), melemahkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko infeksi.</li>
</ul>
<p>Jika paparan logam berat terus berlanjut, bisa terjadi pancytopenia, yaitu kondisi di mana jumlah trombosit, sel darah merah, dan sel darah putih semuanya turun drastis. Ini bisa berakibat fatal jika tidak ditangani. Jadi, keracunan logam berat dapat berdampak serius pada produksi trombosit dan semua jenis sel darah, bukan hanya satu jenis sel saja.</p>
<h2><strong>Ok, bagaimana jika dihubungkan dengan DBD dalam perspektif teori medan?</strong></h2>
<p>Seperti yang sudah aku sering posting bahwa aku sudah tidak memakai <a href="https://mahirdigital.org/teori-kuman-dan-teori-medan/">teori kuman</a> maka mari kita tinjau DBD dalam perspektif teori medan. Karena teori kuman berbicara tentang kuman entah itu bakteri ataupun virus maka biang kerok DBD akan dinobatkan kepada virus dengue. Sayangnya sudah puluhan tahun teori kuman pasteur tidak bisa membunuh dengue. Penanganan DBD diserahkan pada tubuh itu sendiri dalam arti saat seseorang didiagnosis terkena DBD maka hanya akan dilakukan upaya supportif saja. Mereka kembali ke prinsip awal bahwa penyakit karena virus sifatnya self limiting desease atau sembuh sendiri.</p>
<p>Bagaimana tinjauan jika pakai perspektif teori medan? Kondisi sakit adalah upaya tubuh untuk menyeimbangkan dirinya sendiri. Bakteri, virus, ataupun jamur yang jumlahnya meledak merupakan konsekuensi dari perombakan zat beracun yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Yang jadi pertanyaan adalah racun apa yang dikeluarkan pada saat DBD? Nah, ini yang tidak pernah diteliti. Apakah ada logam berat yang mengendon di sumsum tulang? Ataukah karena ada racun yang harus direlease dari liver?</p>
<p><a href="https://www.iscientific.org/wp-content/uploads/2018/02/4-IJCBS-14-06-07-.pdf" rel="nofollow noopener" target="_blank">Syed et. al. (2014)</a> dalam penelitiannya tentang profil unsur serum darah pasien demam berdarah dari Faisalabad, Pakistan menunjukkan bahwa jumlah natrium, klorida dan kalsium bervariasi secara signifikan sedangkan kalium tidak signifikan antara sampel serum kontrol dan pasien. Demikian pula, kandungan logam berat; timbal, tembaga, seng dan besi berbeda secara signifikan sedangkan kromium tidak signifikan antara sampel serum kontrol dan sampel pasien demam berdarah. Jadi, apakah karena usaha pengeluaran logam berat sehingga tubuh memproduksi virus dengue?</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mahirdigital.org/antara-trombosit-sumsum-tulang-dan-hati/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Teori Kuman dan Teori Medan (germ theory and terrain theory)</title>
		<link>https://mahirdigital.org/teori-kuman-dan-teori-medan/</link>
					<comments>https://mahirdigital.org/teori-kuman-dan-teori-medan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[juragan]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 08 Mar 2025 13:11:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mahirdigital.org/?p=2850</guid>

					<description><![CDATA[Teori Kuman dan Teori Medan (germ theory and terrain theory) Pernah dengar kedua teori ini? belum ya. Kalau teori kuman [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h2><strong>Teori Kuman dan Teori Medan (germ theory and terrain theory)</strong></h2>
<p>Pernah dengar kedua teori ini? belum ya. Kalau teori kuman mungkin pernah, namun bagaimana dengan teori medan? Kalau belum, sudah saatnya Anda membuka mata lebar-lebar. Jujur saja, aku pun baru tahu istilah teori medan pada tahun 2019, saat plandemi terjadi.</p>
<h2><strong>Sejarah teori kuman dan teori medan</strong></h2>
<p>Ada dua teori dari Barat tentang penyakit yang ternyata tak pernah diajarkan secara gamblang di sekolah. Yang diajarkan di sekolah itu teori kuman. Teori yang menyebutkan bahwa penyakit disebabkan oleh kuman spesifik. Sedangkan teori medan, disebut namanya saja tidak. Coba saja Anda cari artikel berbahasa Indonesia, aku jamin akan sulit menemukannya. Atau Anda mau coba cari referensi buku berbahasa Indonesia? Sampai saat ini, aku pun belum menemukannya.</p>
<p>Ok, kita mulai dari sejarahnya. Teori kuman dan teori medan sebenarnya merupakan dua teori yang dulunya bertarung sengit. Kedua teori ini dicetuskan oleh dua orang berkebangsaan Prancis. Kedua peneliti abad kesembilan belas itu sezaman secara ilmiah, rekan senegara, dan sesama anggota Akademi Sains Prancis, tetapi perbedaan utama dalam pandangan mereka tentang biologi dan patologi penyakit menyebabkan persaingan yang berkepanjangan baik di dalam maupun di luar Akademi.</p>
<p>BéChamp merupakan pemikir yang lebih cemerlang, sedangkan Pasteur memiliki koneksi politik, termasuk Kaisar Napoleon III. Alur cerita berikutnya kemungkinan bisa Anda tebak. Seperti yang kita ketahui sekarang, teori kuman dipakai di seluruh dunia sedangkan teori medan seolah ditenggelamkan. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Jelas karena teori kuman bisa diduitin dan merupakan sumber cuan yang gurih jika diterapkan. Kebalikannya, teori medan sangat “murah” dan potensi cuan oleh industri tak bisa dikapitalisasi.</p>
<p>Promosi teori kuman Pasteur begitu menggelora apalagi setelah Rockefeller meminangnya. Sekitar tahun 1900-1930, para ilmuwan sama sekali tidak memutuskan teori mana yang benar. Teori kuman menggurita setelah <strong>advokat teori kuman yang didanai Rockefeller, Louis Pasteur</strong> &#8220;memenangkan&#8221; diskusi dengan menghadirkan bukti penipuan infeksi terhadap advokat teori medan <strong>Antoine BéChamp.</strong></p>
<p>Suntik mati teori medan selanjutnya adalah <strong>laporan Carnegie Flexner</strong> yang juga didanai oleh Rockefeller [<a href="https://archive.org/details/carnegieflexnerreport" rel="nofollow noopener" target="_blank">archive.org</a>, <a href="https://wickedtruths.org/wp-content/uploads/2021/01/Carnegie_Flexner_Report.pdf" rel="nofollow noopener" target="_blank">pdf</a>] yang mempersenjatai politik demi pengobatan yang terpusat berbasis obat melawan pengobatan alami. Itu merupakan pengambilalihan dunia kesehatan Barat yang semula naturopati menjadi allopati.</p>
<h2><strong>Perbedaan mencolok antara teori kuman dan teori medan</strong></h2>
<p>Jika teori kuman mempromosikan bahwa kuman merupakan organisme penyebab penyakit yang harus ditakuti, maka teori medan berbicara sebaliknya. Teori medan tidak memandang kuman sebagai penyebab penyakit melainkan lingkungan internal tubuh yang terlalu toksiklah yang menyebabkan kuman itu ada.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-2851 size-full" src="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/teori-kuman.jpg" alt="teori kuman dan teori medan" width="718" height="313" srcset="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/teori-kuman.jpg 718w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/teori-kuman-300x131.jpg 300w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/teori-kuman-18x8.jpg 18w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/teori-kuman-600x262.jpg 600w" sizes="(max-width: 718px) 100vw, 718px" /></p>
<p>Perbedaan cara pandang ini tentu saja berimplikasi pada cara penanganan yang juga berbeda. Jika teori kuman berfokus pada bagaimana membunuh kuman maka sebaliknya teori medan berfokus pada bagaimana mengembalikan keseimbangan medan tubuh. Dengan model pandangan yang seperti ini maka jika kita pakai teori kuman, obat-obatan, antibiotik, dan vaksin bisa menjadi ladang cuan yang sangat besar sedangkan jika pakai teori medan, Anda hanya cukup mensupport tubuh Anda untuk bisa kembali seimbang. Perlakuan penangganan penyakit cukup dengan jalan pemenuhan asupan nutrisi dan obat-obatan berbasis herbal yang dapat Anda dapatkan secara gratis di sekitar tempat tinggal Anda.</p>
<p>Lebih jelas untuk memahami ini maka kita bisa menganalogikan ikan di akuarium. Perhatikan gambar berikut ini:</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone wp-image-2852 size-large" src="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/FE3553A1-B1D6-46FC-A6CE-AFA3CBBF5DB5-1024x1024.jpeg" alt="teori kuman dan teori medan" width="1024" height="1024" srcset="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/FE3553A1-B1D6-46FC-A6CE-AFA3CBBF5DB5-1024x1024.jpeg 1024w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/FE3553A1-B1D6-46FC-A6CE-AFA3CBBF5DB5-300x300.jpeg 300w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/FE3553A1-B1D6-46FC-A6CE-AFA3CBBF5DB5-150x150.jpeg 150w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/FE3553A1-B1D6-46FC-A6CE-AFA3CBBF5DB5-768x768.jpeg 768w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/FE3553A1-B1D6-46FC-A6CE-AFA3CBBF5DB5-12x12.jpeg 12w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/FE3553A1-B1D6-46FC-A6CE-AFA3CBBF5DB5-600x600.jpeg 600w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/FE3553A1-B1D6-46FC-A6CE-AFA3CBBF5DB5-100x100.jpeg 100w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/FE3553A1-B1D6-46FC-A6CE-AFA3CBBF5DB5.jpeg 1080w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></p>
<p>Jika air di dalam akuarium ikan Anda kotor, apa yang akan Anda lakukan? Apakah menyuntik ikan dengan vaksin, memberikan ikan antibiotik atau mengganti airnya. Sebagai lulusan sarjana perikanan maka tentu saja mengganti air adalah pilihan yang tepat. Di dalam teori penyakit ikan sendiri ada 3 faktor utama yang bisa mempengaruhi terjadinya penyakit.</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-2853" src="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/penyakit-300x266.jpg" alt="" width="300" height="266" srcset="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/penyakit-300x266.jpg 300w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/penyakit-14x12.jpg 14w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/penyakit.jpg 320w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Kuman sudah ada di lingkungan hidup ikan, akan tetapi jika host kuat dan lingkungan mendukung untuk kehidupan ikan maka tidak akan pernah terjadi penyakit. Hal yang sama juga berlaku untuk manusia. Bahkan mikroorganisme yang dianggap baik atau pun buruk sudah ada di dalam tubuh kita sendiri. kumpulan semua organisme mini tersebut dikenal dengan sebutan mikrobiom.</p>
<h2><strong>Runtuhnya teori kuman</strong></h2>
<p>Runtuhnya teori kuman bagi aku pribadi sudah mulai terlihat setelah plandemi 2019. Bagian pertama yang paling mencolok adalah tidak ada penularan bahkan saat aku merawat istri yang menunjukkan gejala terkena c19. Bagian kedua adalah kegagalan vaksin yang pada kenyataannya tidak bisa memberikan perlindungan. Orang yang sudah divaksin masih dapat terkena penyakit dan hal ini jelas menunjukkan bahwa apa yang para ahli sebut sebagai kekebalan kelompok hanyalah teori tanpa bukti.</p>
<p>Mulai maraknya penelitian tentang mikrobiom juga turut memberikan bukti bahwa teori kuman menuju keruntuhan.  <a href="https://link.springer.com/book/10.1007/978-3-319-90545-7" rel="nofollow noopener" target="_blank">Haller, D. (2018), dalam buku Intestinal Microbiome in Health and Disease</a>, menyebutkan: “Pada akhir abad kesembilan belas, Robert Koch dan Louis Pasteur mengembangkan konsep bahwa penyakit menular pada manusia disebabkan oleh infeksi mikroba dan, dengan demikian, merevolusi pandangan dokter tentang cara mencegah dan mengobati epidemi. Lebih dari 100 tahun kemudian, <strong>revolusi konseptual</strong> berikutnya menyiratkan bahwa komunitas mikroba &#8220;komensal&#8221; yang terjadi secara alami di dalam dan di bagian tubuh manusia memengaruhi kesehatan dan perkembangan berbagai penyakit.</p>
<p>Selama dekade terakhir, konsorsium sains besar di Eropa (MetaHIT; Metagenomik Saluran Usus Manusia) dan AS (Proyek Mikrobioma Manusia) telah mulai memperoleh data tentang potensi genomik, hubungan filogenetik, dan sifat fungsional komunitas mikroba, yang secara kolektif disebut mikrobioma, dalam populasi manusia yang sehat dan sakit. Terobosan teknis dan keterjangkauan sequencing generasi berikutnya (NGS) merangsang peningkatan besar dalam aktivitas ilmiah yang menghasilkan hampir 40.000 publikasi yang diindeks dengan istilah pencarian “mikrobioma” dalam basis data Perpustakaan Kedokteran Nasional AS (PubMed).</p>
<p>Perhatikan frasa yang aku cetak tebal “<strong>revolusi konseptual</strong>”. Revolusi konseptual berarti perombakan besar-besaran pada tataran konsep. Hal ini berarti teori kuman sudah runtuh. Tentu saja, pihak-pihak yang selama ini sudah mendulang cuan begitu banyak dari konsep pasteur akan keberatan dan berusaha mati-matian untuk mempertahankan teori kuman.</p>
<p>Akan tetapi, fakta tetaplah fakta. Kegagalan konsep pasteur bahkan bisa Anda lihat dari semakin suburnya bisnis kesehatan. Bukankah banyaknya rumah sakit itu adalah indikator bahwa hampir semua advise2 tentang kesehatan perlu direvolusi? Jika teori penyakit yang selama ini dipakai benar, maka rumah sakit seharusnya sepi, pasiennya paling pol berasal dari orang yang kecelakaan dan para pemodal tentu akan berpikir 1000x untuk berbisnis rumah sakit.</p>
<p>Secara lengkap dapat Anda baca di ebook BALANCE</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-2854" src="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/Template-Ebook-Cover-300x300.webp" alt="balance" width="300" height="300" srcset="https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/Template-Ebook-Cover-300x300.webp 300w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/Template-Ebook-Cover-150x150.webp 150w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/Template-Ebook-Cover-768x766.webp 768w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/Template-Ebook-Cover-12x12.webp 12w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/Template-Ebook-Cover-600x598.webp 600w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/Template-Ebook-Cover-100x100.webp 100w, https://mahirdigital.org/wp-content/uploads/2025/03/Template-Ebook-Cover.webp 1000w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mahirdigital.org/teori-kuman-dan-teori-medan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
